JLCインドネシア語【添削・アウトプットクラス】の開始

寓話でインドネシア語 Vol.7 Buaya Perompak (Cerita Daerah Lampung) 海賊ワニ(ランプン地域の物語)

まずは動画を一度見て、大体の内容を確認しましょう。分からない単語は放置で良いです。その後に音声を流しながら文字お越しの文章を追います。分からない単語がチェックできた時点で、もう一度動画を観る⇒音声を流す作業をしてください。最後に音声を流して情景やストーリーをイメージできるようになるまで何度も繰り返しましょう。音声だけを聞いて分からない単語や表現がなくなったら次の動画を観ましょう。

 

 

文字起こし

Buaya Perompak

 

Tulang Bawang adalah salah satu sungai di Indonesia yang terkenal dengan buaya yang ganas.

 

Sungai Tulang Bawang merupakan sungai besar yang melintasi Kabupaten Tulang Bawang,

 

Provinsi Lampung. Sungai Tulang Bawang memiliki panjang sekitar 136 km dan bermuara di Laut Jawa.

 

Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Wai Tulang Bawang.

 

Wai adalah istilah dalam Bahasa Lampung untuk sungai.

 

Karena terkenal akan keganasan buaya, sungai Tulang Bawang pun menghadirkan cerita rakyat yang masih dikenal hingga sekarang.

 

Cerita rakyat tersebut mengisahkan tentang seekor buaya di sungai Tulang Bawang yang suka merompak kapal-kapal pedagang yang lewat.

 

Bagaimana mungkin seekor buaya merompak kapal pedagang? Mari kita simak ceritanya berikut ini.

 

Apa beda merompak dengan merampok?

 

Merompak adalah merampas milik orang lain yang dilakukan di perairan, laut maupun sungai.

 

Pelakunya disebut perompak.

 

Sedangkan merampok adalah merampas hak milik orang yang dilakukan di daratan. Pelakunya disebut perampok.

 

Pada zaman dahulu, sungai Tulang Bawang merupakan lalu-lintas kapal-kapal yang padat, terutama kapal-kapal pedagang.

 

Sebuah kapal pedagang melintasi sungai Tulang Bawang.

 

Namun tiba-tiba seekor buaya menyerang kapal pedagang tersebut.

 

Kapal yang terbuat dari kayu tersebut dicabik-cabik buaya hingga hancur dan tenggelam.

 

Kejadian tersebut bukan yang pertama kalinya.

 

Namun sudah berulang kali terjadi.

 

Kapal-kapal yang melintasi sungai Tulang Bawang pun menjadi semakin sedikit, karena takut dengan serangan buaya tersebut.

 

Bukan hanya kapal-kapal yang diserang, manusia yang beraktivitas di sungai, seperti mencuci pakaian pun tidak luput dari serangan buaya.

 

Seorang gadis bernama Aminah tidak luput dari serangan buaya ganas itu.

 

Ketika sedang mencuci pakaian, seekor buaya menyerangnya dan membawanya ke dalam air.

 

Aminah ternyata dibawa ke dalam sebuah gua di dalam sungai Tulang Bawang.

 

“Di mana aku? Dasar Buaya jahat! Jadi kamu ternyata yang suka merompak kapal-kapal pedagang itu, ya?”

 

“Hehehehehe… Iya, aku merompak kapal-kapal itu.

 

Lihat di sekelilingmu, banyak perhiasan dan benda-benda berharga. Itu semua hasil dari rompakanku selama ini.”

 

Meskipun takut, Aminah ternyata penasaran dengan buaya tersebut.

 

“Kamu ini sebenarnya siapa?”

 

“Aku ini sebenarnya manusia sepertimu.

 

Hanya saja aku ini suka merompak.

 

Sehingga aku dikutuk menjadi buaya.

 

Aku dulunya seorang bajak laut yang paling ditakuti di seluruh aliran sungai Tulang Bawang ini.”

 

“Kenapa kamu membawaku kemari?”

 

“Lihatlah, tempat ini meskipun penuh perhiasan, tapi sangat kotor.

 

Jika kamu mau membantu membersihkan tempat ini dan memasak, aku akan memberimu pakaian yang bagus, dan perhiasan yang banyak.

 

Kamu bisa mengambil perhiasan manapun yang kamu suka.

 

Aku ini sangat suka makan, tapi malas memasak dan bersih-bersih.”

 

“Memasak? Dari mana kamu dapat bahan-bahan untuk memasak?”

 

“Setiap bulan purnama, aku berubah wujud menjadi manusia biasa.

 

Jadi saat itu aku keluar dan membeli bahan-bahan makanan di pasar.

 

Mereka tentu saja tidak mengenaliku, kalau aku ini si Buaya Perompak yang terkenal itu. Hahahahaha.”

 

Aminah tidak memiliki pilihan lain, selain memenuhi keinginan si Buaya.

 

Aminah pun memasak makanan untuk si Buaya. Sambil memasak, Aminah kembali bertanya kepada buaya.

 

“Bagaimana caramu membawa bahan-bahan makanan ini? Kalau terkena air, pasti bahan-bahan ini rusak dan cepat membusuk.”

 

“Hahahahaha. Meskipun buaya, tapi aku ini pintar. Aku membuat terowongan sebelah sana.”

 

Aminah segera melihat terowongan yang ditunjukkan buaya. Aminah pun segera menemukan ide.

 

“Ngg… ke mana arah terowongan itu?”

 

“Terowongan itu mengarah ke tepian sungai di dekat pasar Tulang Bawang. Itulah satu-satunya jalan untuk keluar dari sini.

 

Hehehehe.”

 

Tiba-tiba, perut berbunyi tanda dia sudah sangat kelaparan.

 

“Sudahlah! Jangan banyak bertanya! Cepat! Mana makanannya?! Atau kamu yang aku makan!”

 

Aminah segera menyelesaikan masakannya dan menghidangkannya kepada buaya.

 

“Wah… Ini sepertinya lezat sekali. Hmm… Nyamnyamnyam,”

 

Aminah hanya melihat buaya itu makan dengan rakus.

 

Dia sepertinya sedang menunggu kesempatan. Buaya yang rakus itu menghabiskan semua makanan yang dimasak Aminah.

 

“Ehehehehe… enak sekali makan masakanmu. Grokk… Grokk…”

 

Karena kekenyangan, buaya itu pun ketiduran setelah makan.

 

Aminah mencoba berdehem beberapa kali untuk memastikan buaya tersebut sudah benar-benar tertidur pulas.

 

“Ehem… ehem…”

 

“Grokk… Grokk…”

 

Setelah memastikan buaya tersebut tertidur pulas, Aminah mengendap-endap berjalan menuju terowongan.

 

Aminah pun berhasil menyusuri terowongan milik buaya tersebut ketika hari sudah malam.

 

Apa yang dikatakan buaya tersebut benar.

 

Terowongan itu ternyata berujung di pinggir sungai Tulang Bawang dekat dengan pasar.

 

“Hei, Aminah! Dari mana saja kamu?

 

Orang tuamu khawatir, dikiranya kamu sudah dimakan buaya.”

 

Aminah pun menceritakan apa yang dialaminya kepada penduduk kampung yang ditemuinya.

 

Para penduduk desa yang sudah mengetahui tentang keberadaan buaya perompak tersebut, langsung berkumpul sambil membawa senjata.

 

Mereka hendak menyerbu ke gua buaya dan membunuhnya.

 

“Pokoknya jangan biarkan buaya itu lolos! Kita harus membunuhnya malam ini juga!”

 

Para penduduk desa segera memasuki terowongan buaya dengan sangat hati-hati.

 

Mereka sudah menyiapkan senjata yang terhunus di tangan.

 

Seorang penduduk desa mengintip buaya perompak tersebut.

 

Penduduk desa itu melihat buaya yang sedang tidur pulas.

 

“Sstt… Buaya itu masih tertidur pulas. Ini saat yang tepat untuk menyerang.

 

Penduduk desa yang sudah marah dengan ulah si Buaya Perompak tersebut, segera menyerang dengan beramai-ramai tanpa ampun.

 

“Ampun… ampuni aku… Bakbuk! Bakbuk! Huhuhu… aku berjanji akan menjadi buaya yang baik hati dan tidak merompak lagi. Huhuhu…”

 

“Mana ada buaya baik hati! Hajar dia!”

 

Buaya perompak yang terkenal ganas itu menangis kesakitan sambil minta ampun.

 

Akhirnya buaya perompak yang ganas itu mati di tangan para penduduk desa.

 

Mereka gembira karena buaya yang selama ini meneror kapal dan warga di sungai Tulang Bawang telah mati.

 

Setelah membunuh buaya perompak tersebut, para penduduk desa pun mengambil semua perhiasan dan harta hasil rompakan milik buaya.

 

Mereka membagi secara rata harta dan perhiasan tersebut ke seluruh penduduk desa.

 

Aminah yang berhasil memberikan informasi keberadaan buaya mendapatkan bagian paling banyak.

 

Semenjak buaya perompak tersebut mati, sungai Tulang Bawang kembali ramai oleh kapal-kapal pedagang.

 

Sejak itu, tidak ada lagi kapal pedagang yang tenggelam akibat diserang buaya.

 

覚えたい重要単語

  • Buaya: ワニ
  • Perompak: 海賊、merompak: 海でか他人の財を奪う人
  • Ganas: 凶暴
  • Melintasi: 通う (原型:lintas)
  • Masyarakat setempat: 現地の人々
  • Menghadirkan: 持ち込む (原型:hadir)
  • Cerita rakyat: 民話
  • Mengisahkan: 語る (原型:kisah)
  • Pedagang: 売人 (原型:dagang)
  • Merampas: 奪う (原型:rampas)
  • Perampok: 泥棒
  • Lalu-lintas: 交通
  • Padat: (道や人など)混んでいる
  • Namun: しかし
  • Dicabik-cabik: 引き裂かれる
  • Berulang kali: 何回も
  • Beraktivitas: 行動する (原型:aktivitas)
  • Serangan: 攻撃
  • Penasaran: 気になる
  • Dikutuk: 呪われる (原型:kutuk)
  • Aliran: 流れ
  • Bulan purnama: 満月
  • Membusuk: 腐敗する
  • Terowongan: トンネル
  • Tepian: 縁
  • Menghidangkannya: 彼に奉仕する
  • Rakus: 強欲
  • Kekenyangan: 飽満 (原型:kenyang)
  • Berdehem: 小さな咳を作る
  • Mengendap-endap: 忍び寄る
  • Senjata: 武器
  • Menyerbu: 侵入する (原型:serbu)
  • Terhunus: (剣)が抜き放たれる
  • Mengintip: 覗いている
  • Ampun: 許す
  • Meneror: テロをする (原型:teror)

 

 

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

このサイトはスパムを低減するために Akismet を使っています。コメントデータの処理方法の詳細はこちらをご覧ください