Taman Nasional sebagai Benteng Keanekaragaman Hayati: 556 kawasan konservasi、6 zona、UNESCO Ujung Kulon・Komodo・Lorentz
556 kawasan konservasi(27.14 juta ha)の中の 54 taman nasional、6 zona の管理体制、UNESCO 自然遺産 3 公園、そして4 大脅威に立ち向かう全社会の責任
Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi. Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, Indonesia memiliki 556 kawasan konservasi dengan luas keseluruhan sekitar 27,14 juta hektare. Dari jumlah tersebut, 214 unit berupa cagar alam, 80 unit suaka margasatwa, dan 54 unit berstatus taman nasional. Taman nasional dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, pariwisata, dan rekreasi.
Pengelolaan taman nasional dibagi ke dalam beberapa zona. Zona inti merupakan wilayah yang paling dilindungi; di sana tidak diperbolehkan kegiatan rehabilitasi maupun pemanfaatan agar kekhasan, keaslian, dan keunikan flora, fauna, serta ekosistemnya tetap terjaga. Selain zona inti, terdapat pula zona rimba, zona pemanfaatan untuk wisata terbatas, zona tradisional, zona rehabilitasi, dan zona khusus. Pembagian ini bertujuan menyeimbangkan perlindungan alam dengan kebutuhan manusia.
Sejumlah taman nasional Indonesia bahkan memperoleh pengakuan dunia. Tiga di antaranya ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Komodo pada tahun 1991, serta Taman Nasional Lorentz pada tahun 1999. Taman Nasional Ujung Kulon di Banten seluas 122.955 hektare menjadi rumah terakhir badak jawa yang terancam punah, sementara Taman Nasional Lorentz di Papua dinilai memiliki keanekaragaman hayati paling lengkap di Asia Pasifik.
Meski demikian, taman nasional menghadapi berbagai ancaman, seperti perambahan hutan, perburuan liar, kebakaran, dan tekanan pariwisata yang berlebihan. Oleh karena itu, pelestarian taman nasional bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat agar warisan alam ini tetap lestari bagi generasi mendatang.
*Disadur dari Kompas.com
Disadur dari Kompas.com