\ 今なら7日間まるごと無料!/

Daily Japanesia|2026年5月21日 — Tenun Warna Alam Sumba

📅 2026.05.21 · Kamis

Tenun Warna Alam Sumba

東ヌサ・トゥンガラ州スンバ島の天然染料イカット織り。1枚に42工程・最長1年超、eco-fashion が伝統継承のカギに——?

🎧 約2分37秒 🌍 環境・国際協力 📰 Disadur dari Kompas.com
🎧

まずは音声を聞いてみよう

2回聞いた後、原文を見ずに2分間で要約を口頭発表してから
下の質問に挑戦してみてください。

3:08
🔁 ×2 推奨
  1. Apa makna kain tenun ikat bagi masyarakat Sumba selain sebagai pakaian sehari-hari?
  2. Bahan-bahan alam apa saja yang digunakan untuk mewarnai tenun Sumba?
  3. Mengapa tradisi pewarnaan alami sempat ditinggalkan oleh sebagian penenun?
  4. Berapa banyak tahapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sehelai kain tenun Sumba?
  5. Menurut Anda, apa langkah paling efektif untuk menarik minat generasi muda agar mau melanjutkan tradisi tenun warna alam? Jelaskan pendapat Anda dalam dua menit!

Tenun Warna Alam Sumba

Sebuah laporan dari Sumba — wastra dan kebudayaan
Tenun ikat Sumba merupakan salah satu wastra Nusantara yang paling dikenal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat setempat, kain ini bukan sekadar pakaian, melainkan penanda identitas, status sosial, dan nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Di Sumba Timur, motif kuda, ayam, dan manusia kerap muncul sebagai lambang kehidupan dan kepercayaan masyarakatnya. Kain ini juga memegang peran penting dalam berbagai upacara adat, mulai dari perkawinan hingga pemakaman.
Keindahan tenun Sumba lahir dari proses pembuatan yang panjang dan rumit. Kain ini umumnya dibuat dari benang kapas yang diikat sebagian sebelum dicelup, sehingga pola tertentu tidak ikut terwarnai. Sehelai kain dapat melewati sekitar empat puluh dua tahapan dan memerlukan waktu enam bulan hingga lebih dari satu tahun untuk diselesaikan. Warnanya tidak berasal dari zat kimia, tetapi dari bahan alam, seperti akar mengkudu yang menghasilkan warna merah, daun dan kulit loba, tanaman wuira, serta lumpur yang dipakai untuk mengikat warna agar tahan lama.
Namun, tradisi pewarnaan alami ini sempat ditinggalkan. Proses yang memakan waktu dan keahlian khusus membuat banyak penenun beralih pada pewarna sintetis yang lebih cepat dan murah. Regenerasi pun terbatas karena generasi muda cenderung memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi, sehingga keterampilan mewarnai dengan bahan alam mulai langka. Akibatnya, sebagian pengetahuan tentang ramuan pewarna tradisional terancam hilang.
Meski demikian, upaya pelestarian terus dilakukan. Berbagai program pembinaan melibatkan kelompok penenun di Sumba Timur untuk menghidupkan kembali teknik pewarnaan alami. Tren eco-fashion atau busana ramah lingkungan turut memberi peluang baru, sebab kain dengan pewarna alam dinilai lebih bernilai dan berkelanjutan. Beberapa kain Sumba bahkan telah dikenalkan dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Dengan demikian, tenun warna alam Sumba diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas tanpa kehilangan jati dirinya.
*Disadur dari Kompas.com
Disadur dari Kompas.com
💡
ここから先は JLC 会員限定エリアです。下にパスワードを入力すると、一文ごとの徹底解説・確認クイズ・単語テストに進めます。
ここから先はJLC会員限定公開となります。
ご覧いただくにはパスワードが必要です。
パスワードはJLC限定FBグループの今月のzoomパスワードと同様です。
会員の方はJLCのFBグループをご確認ください。

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 が付いている欄は必須項目です

このサイトはスパムを低減するために Akismet を使っています。コメントデータの処理方法の詳細はこちらをご覧ください

\もっとインドネシアを知りたいひとはこちら/

メルマガやSNSでは、インドネシア語学習に役立つ最新情報やコンテンツをお届け!是非チェックしてみてくださいね。